Hi…hi…hi… HTML

Anda menghabiskan waktu 4 jam di dapur menyiapkan sebuah kue tar. Mengaduk adonan, memanggang di oven, bahkan sebelumnya merepotkan diri ke supermarket dan toko kue demi membeli semua bahan. Setelah itu di ruang makan Anda duduk di kursi sambil dengan telaten menghiasi masterpiece ini. Tapi apa yang terjadi? Ternyata, anehnya, rasa kue ini berbeda-beda di mulut setiap orang. Memang ada yang merasakan kue manis dan lezat seperti yang Anda harapkan, tapi di lidah orang lain ada yang berubah menjadi masam, tawar, bahkan pedas. Jangankan itu, tampilan kuenya pun bisa berbeda-beda. Ada yang melihat hiasannya hancur tak karuan seolah penghiasnya orang buta! Bagaimana perasaan Anda?

Frustasi? Tentu saja. Dan seperti itulah keadaannya bagi desainer Web beberapa tahun terakhir ini. Perbedaan tampilan dan kelakuan bisa muncul bukan hanya di merek browser berbeda, tapi di platform dan versi dari browser yang sama. Ya, perang browser telah memakan korban orang-orang tak berdosa: para desainer dan koder yang hingga kini harus berkutat menghasilkan dua bahkan lebih versi HTML, atau versi Javascript/JScript, bagi konten yang sama—masing-masing untuk dilihat di browser yang berbeda. Banyak desainer yang tak mau terkurung dalam lingkaran setan ini dan memilih jalur gampang: menulis “Optimized for …” atau “Best viewed with …”

Andai HTML tak pernah ada, dan sejak awal Web dihiasi hanya oleh image, PDF, dan Flash. Maka tak akan ada kepusingan seperti di atas. Kita buat paragraf empat baris, ya tampilnya selalu empat baris di mata siapa pun. Buat lingkaran merah 11,417 cm, jadilah lingkaran merah dengan diameter yang sama. Font Alakazam Bold di komputer kita, ya juga font antik yang sama di monitor klien di belahan dunia sana.

Tapi bukan Web yang murni-visual, univendor, dan serbagrafis seperti itu yang dicita-citakan oleh penciptanya. Hiperteks pada awalnya adalah untuk dokumen, bukan untuk tulisan di atas kertas. Untuk informasi, bukan indahnya layout dan tipografi. Dan untuk semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki layar 21″ dan 32bit warna. Bahkan orang buta pun harus bisa menikmati Web. Dan seperti kita tahu, versi awal HTML bahkan tidak memiliki , , maupun !

Bagaimana pun juga, Web yang indah itu perlu. Dan di dunia yang dipenuhi berbagai jenis browser yang paling banter semikompatibel satu sama lain, desainer yang ahli dan trampil menyajikan konten pun perlu.


..”..Blogging : Programing..”..

2 Responses to “Hi…hi…hi… HTML”

  1. ario Says:

    Kang coder apa sama dengan buser, koper dan laler

  2. Jauhari Says:

    Gitu kok NYERAH, itulah namanya NEVER ENDING LIVETIME WARRANTY IS GOOD!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s